Saham Bank Raksasa Anjlok, IHSG Terperosok Lebih dari 4 Persen
Jakarta– Saham-saham perbankan berkapitalisasi besar mengalami tekanan hebat pada perdagangan Senin (8/6) pagi. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) bahkan menyentuh level terendah dalam lima tahun terakhir, seiring dengan anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Pada perdagangan intraday pukul 09.10 WIB, saham BBCA melemah 4,04 persen ke level Rp4.870 per saham. Padahal, saham tersebut sempat mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) di level Rp10.950 pada 23 September 2024.
Sementara itu, saham BBRI turun lebih dalam, yakni 4,38 persen ke level Rp2.620 per saham pada pukul 09.14 WIB. Sebagai perbandingan, saham bank pelat merah tersebut pernah mencapai level tertinggi Rp6.400 pada 13 Maret 2024.
Tekanan juga melanda saham bank besar lainnya. Saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) merosot 4,67 persen ke level Rp3.060, sedangkan saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun 2,86 persen menjadi Rp3.730 per saham.
Pelemahan sektor perbankan turut menyeret IHSG ke zona merah. Indeks dibuka melemah di level 5.486 dan terus bergerak turun akibat aksi jual yang terjadi pada saham-saham berkapitalisasi besar, khususnya sektor perbankan dan kelompok konglomerasi.
Hingga pukul 09.10 WIB, IHSG tercatat anjlok 245,15 poin atau 4,38 persen ke level 5.349.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), volume perdagangan mencapai 5,97 miliar saham dengan frekuensi transaksi sebanyak 380,91 ribu kali. Nilai transaksi tercatat sebesar Rp3,88 triliun, sementara kapitalisasi pasar mencapai Rp9.524 triliun.
Analis pasar modal Hendra Wardana menilai tekanan yang terjadi di pasar keuangan Indonesia mencerminkan proses repricing risk atau penyesuaian ulang risiko Indonesia di mata investor global.
Menurutnya, pelemahan rupiah, koreksi tajam IHSG, serta berlanjutnya arus keluar dana asing menunjukkan investor kini menuntut premi risiko yang lebih tinggi untuk berinvestasi di Indonesia.
"Pasar tidak hanya melihat prospek pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menilai tingkat risiko yang harus ditanggung investor. Saat ini perhatian utama tertuju pada kepastian arah kebijakan, keberlanjutan fiskal, stabilitas nilai tukar, dan kemampuan pemerintah menjaga kepercayaan pasar," ujar Hendra dalam keterangannya, Senin (8/6).
Ia menambahkan bahwa faktor domestik kini semakin dominan memengaruhi pergerakan pasar dibandingkan beberapa tahun lalu. Meskipun suku bunga tinggi di Amerika Serikat, penguatan dolar AS, dan ketegangan geopolitik masih menjadi tekanan global, investor mulai lebih selektif memilih negara berkembang yang memiliki kepastian kebijakan dan risiko fiskal yang lebih rendah.
Hendra juga menyoroti sejumlah isu yang berkembang belakangan, seperti prospek peringkat kredit, kebijakan fiskal, pengelolaan Danantara, hingga perubahan regulasi. Menurutnya, seluruh isu tersebut bermuara pada satu faktor utama, yakni kepastian dan konsistensi kebijakan pemerintah.
"Investor sebenarnya dapat menerima berbagai kebijakan baru selama arah, tujuan, dan tata kelolanya jelas. Namun pasar cenderung merespons negatif ketika muncul ketidakjelasan terkait implikasi fiskal jangka panjang, tata kelola aset negara, atau perubahan regulasi yang dianggap terlalu cepat," katanya.
Lebih lanjut, Hendra menjelaskan bahwa fenomena yang belakangan dikenal sebagai "Sell Indonesia" mencerminkan menurunnya keyakinan sebagian investor terhadap aset-aset Indonesia dalam jangka pendek. Meski demikian, ia menegaskan bahwa fundamental ekonomi nasional masih relatif kuat dan tetap memiliki daya tahan menghadapi tekanan pasar.
Kondisi pasar saat ini menunjukkan bahwa selain faktor global, kepercayaan investor terhadap arah kebijakan dan stabilitas ekonomi domestik menjadi faktor penting yang menentukan pergerakan aset keuangan Indonesia dalam waktu dekat. (*)
Dividend Yield BBRI Lebih Atraktif Dibanding Yield SBN
BBRI Catat Laba Bersih Rp15,9 Triliun pada 4M26, Tumbuh 6% YoY
Ini Strategi Saat Harga Saham Turun
IHSG Melonjak 1,45% ke Level 7.204, Saham Big Caps Jadi Motor Penguatan
Asing Borong Saham BNI, Big Bank Lainnya Malah Dilepas